Saturday, July 27, 2013

Bagaimana Melihat Isu Keperawan Secara Rasional?




Sebelumnya saya mohon maaf jika tulisan saya kali ini kurang enak dibaca dan menyinggung pihak-pihak tertentu. Sekali lagi saya beritahukan bahwa blog ini menyajikan artikel yang KEBANYAKAN merupakan OPINI pribadi saya. Jadi jika Anda tidak setuju dengan pendapat saya adalah WAJAR.

Saya masih ingat ketikan membaca artikel-artikel di kaskus yang membicarakan tentang KEPERAWANAN. Ada pihak yang dengan nada tinggi begitu meolak jika memiliki pacar atau istri yang sudah tak perawan lagi. Sementara pihak yang lain, yang notabene kebanyakan adalah cewek, dengan nada yang tak kalah dengan pihak kontra tersebut menyebutkan fakta-fakta serta pandangan mereka tentang keperawanan itu sendiri. Nah saat itu saya berada di posisi yang kontra dengan cewek yang tak perawan lagi. Dan waktu itu saya beranggapan, dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan free sex itu.

Itu adalah cerita 5 tahun yang lalu. Seiring bertambahnya pengalaman dan lingkungan sosial saya, pemikiran 5 tahun itu pun sudah berubah. Bukan saya menjadi pro dengan cewek yang tidak perawan dan mengamini free sex, namun saya lebih realistis dengan kehidupan sosialita saat ini, khususnya anak muda. Bagi saya, free sex adalah hak setiap orang untuk melakukannya. Anda tidak punya hak untuk melarang orang lain untuk tidak melakukannya. Saya menganggap, orang yang telah melakukan SEX baik sebelum maupun setelah menikah adalah orang yang sudah cukup DEWASA dan tahu baik buruk apa yang mereka lakukan. Jadi free sex pun harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Jadi, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kedua belah pihak dapat bertanggung jawab dan tidak ada pihak yang dirugikan atas itu.
Bagi saya tidak penting membicarakan keperawanan, jadi artikel ini pun kurang lebih juga tidak penting. Karena keperawanan itu seolah-olah pengahakiman kepada kaum wanita, yang jika sudah tidak lagi perawan, langusng dicap BURUK. Dan lagi, kabar buruk untuk Pria yang masih mendambakan cewek perawan. Karena jika target Anda adalah wanita cantik yang masih perawan, itu hampir mustahil. Kota dan desa sama saja. Ok, sedikit saya kasih gambaran. Data yang menyatakan bahwa wanita lebih banyak daripada Pria itu kurang benar, perbedaan ini hanya sedikit. Jadi kita anggap, jumlah keduanya sama. Dari seluruh wanita yang ada, saya asumsikan yang dikategorikan menarik adalah 20% nya. Itu untuk wanita. Dan untuk Pria, dari seluruh Pria yang ada, saya asumsikan ada sekitar 5% yang memiliki kepribadian menarik dan tingakat kepercayaan yang tinggi.

Eh sebentar, apa maksudnya wanita cantik dengan Pria PD? Lingkungan saya adalah lingkungan dinamis yang memiliki pola pikir yang terbuka, jadi jika Anda adalah orang yang memiliki pemikiran tertutup, saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini. Dari 5% Pria tersebut, termasuk juga teman-teman saya. Mereka ini sangat menarik bagi wanita. Dari satu teman saya ini saja minimal menghabiskan 10 wanita cantik. Saya tidak berbicara tentang satu orang. Saya bertanya kepada saudara saya, teman-teman saya, ternyata juga memiliki cerita yang hampir sama. Bahkan teman wanita saya pernah mengatakan bahwa salah satu temannya sudah mengahbiskan lenbih dari 100 keperawanan wanita. Jika melihat presentase jumlah Pria PD ini mungkin tidak banyak, namun dengan prestasi mereka yang bisa mengahabiskan keperawanan 10 hingga 100 wanita cantik, angka ini menjadi 5% x 10 = 50%. Sementara Wanita cantik hanya 20%. Jadi kemana sisanya, tentu yang kurang menrik pun juga banyak yang tak perawan lagi.

Dengan perhitungan seperti itu, tentu untuk mendapat wanita cantik yang memiliki idealisme menjadi keperawanan hampir mustahil. Yang kurang menarik saja sudah banyak yang gak perawan, apalagi yang jelas sudah menarik? Who knows!

Di artikel ini saya hanya berusaha memberikan gambaran, bahwa pemikiran tentang keperawanan itu sangat absurb. Di lingkungan yang lain yang sangat dinamins, saya tidak pernah sekalipun mendengar pembahasan tentang keperawanan. Saya hanya akan mendengar pembahasan ini ketika berkumpul dengan orang-orang yang pemikirannya masih sempit, dan kurang mau menerima pemikiran baru. Boleh lah kita idealis dengan apa yang kita yakini BENAR. Namun, realita yang saya paparkan di atas bukan lah omong kosong. Jangan sampai Anda merasa dibohongi oleh pasangan Anda yang ternyata tidak sesuai dengan harapan Anda.

Artikel Terkait

0 Komentar Bagaimana Melihat Isu Keperawan Secara Rasional?

Post a Comment

Back To Top